Select Page

Mari menghitung sudah berapa bulan kita #DiRumahAja? 6 bulan? 8 bulan? Sejak ditetapkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada pertengahan bulan Maret.Sebagian besar perusahaan mengeluarkan kebijakan kepada para pekerjanya untuk bekerja dari rumah untuk menjamin kesehatan dan keamanan mereka dantidak sedikit pegawai yang akhirnya dirumahkan sebab perusahaan tidak lagi mampu menunaikan upah para pegawainya.

Bekerja dari rumah atau Work From Home tidak dapat dipungkiri berpotensi menjadi stressor bagi mereka yang tidak terbiasa bekerja di rumah sebelum pandemi datang. Pasalnya, mereka memikul berbagai peran dalam satu waktu karena para asisten rumah tangga yang pulang kampung, ditutupnya daycare tempat biasa menitipkan anak, hingga anak-anak yang sekolah dari rumah dengan berbagai macam bentuk tugas yang diberikan guru secara daring. Mereka tidak hanya mengurusi pekerjaan kantoran mereka, melainkan juga pekerjaan-pekerjaan domestik yang tidak ada habisnya. 

Akibatnya, gejala-gejala stress bermunculan yang secara tidak langsung menambah beban mereka yang mengalaminya. Dikutip dari CNN Indonesia, seseorang yang stress dapat dilihat dari gejala-gejala seperti kesulitan berkonsentrasi, perubahan mood secara cepat (mood-swing), tidak mampu berhenti mengerjakan pekerjaan, tidak mampu mendelegasikan tugas kepada orang lain dan terlalu sering mengecek kotak masuk dari media sosial manapun. Gejala-gejala kasat mata juga menjadi tanda seseorang mengalami stress, seperti gatal-gatal, bibir yang mudah berdarah, ruam, dan muntah-muntah. 

Jauh sebelum adanya Virus Covid-19 yang menyebabkan terjadinya kelumpuhan ekonomi dan industri sehingga berimbas pada kesejahteraan mental pekerja, warga negara Swedia telah lama menganut nilai yang didapatkan dari para leluhur untuk menjalani kehidupan dalam porsi yang seimbang. Negara yang menyandang posisi ke-7 dari Negara Paling Bahagia di dunia menjadikan nilai tersebut sebagai prinsip sekaligus filosofi kehidupan mereka untuk menikmati hidup dalam kesederhanaan. Nilai tersebut dinamakan dengan lagom

Lagom tidak memiliki padanan kata yang tepat dalam Bahasa Inggris, apalagi Bahasa Indonesia. Lagom memiliki makna “not too little, not too much, just right.” Lagom adalah komposisi yang penting dalam bagaimana orang-orang Swedia mencapai kesuksesannya, yakni hidup yang seimbang antara urusan pekerjaan dengan urusan-urusan lainnya bersama dengan keluarga maupun orang-orang terkasih lainnya. Mereka menggunakan lagom dalam segala aspek kehidupan, mulai dari gaya hidup, makanan, cara berpakaian, mengelola perasaan, bersosialisasi, hingga menjaga keberlanjutan lingkungan hidup di sekitar mereka. 

Lagom memiliki beberapa manfaat di antaranya:

  1. Dalam lingkup ruang spasial, lagom memberikan kesempatan kita untuk berpikir lebih jernih dengan desain rumah ala Scandinavian yang memiliki ciri khas ruangan yang luas dan tidak banyak memiliki dekorasi dan aksesoris.
  2. Dalam lingkup kesejahteraan mental, lagom menekankan praktik mindfulness diterapkan dalam setiap aktivitas. Mereka merasa dirinya hadir secara utuh, “here and now.”
  3. Dalam lingkup finansial, lagom mengajarkan nilai minimalism yang tidak lain digunakan karena mereka amat sadar sepenuhnya bahwa sekecil apapun barang yang mereka buang dan sekecil apapun sisa dari apa yang mereka gunakan akan berdampak pada bumi. Membeli barang-barang baru tidaklah menjadi prioritas mereka. Sebaliknya, mereka amat mengoptimalkan daur ulang barang yang sudah dipakai.
  4. Dalam lingkup membina hubungan, lagom menjunjung tinggi sikap saling memiliki sesama manusia. Mereka merasa memiliki tanggung jawab untuk bersikap baik kepada orang lain untuk menghindari dan memperbesar konflik. 

Sebagian orang mungkin akan beranggapan lagom menjadi hal yang melelahkan dan sulit dilakukan, mereka menganggap bahwa keseimbangan antara work  dan life adalah angan-angan yang utopis. Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana seseorang bisa memiliki interior rumah yang well-designed, makan dengan menu sehat setiap hari, olahraga yang optimal, tidak kehilangan waktu untuk berkumpul bersama teman-teman dan keluarganya tetap bisa memiliki performa kerja yang baik dan mampu mengendalikan emosi dengan sangat baik? 

Sebenarnya, kunci dari lagom adalah “making the good life less complicated”. Masyarakat Swedia memiliki ambisi dalam bekerja, mereka juga memiliki target-target yang ingin mereka capai. Namun, dengan memegang lagom sebagai nilai yang kuat, mereka berhasil membuat apapun yang ada di tangan mereka terkendali dengan baik tanpa merasa tergesa-gesa. Lingkungan mereka amat kondusif menciptakan ruang-ruang yang nyaman untuk menghirup udara segar sekalipun itu di dalam rumah. 

Filosofi lagom yang ditujukan untuk mendapatkan work-life balance diwujudkan dalam bentuk fika, yakni sebuah tradisi yang mirip dengan coffee breaks. Perusahaan-perusahaan Swedia memberikan waktu 15 menit di luar waktu istirahat makan siang kepada setiap pegawainya untuk menikmati kopi setiap pagi dan sore hari. Tidak hanya kopi tentunya, ada juga beragam roti pastries dan minuman relaxing lainnya. Berbeda dengan coffee break yang hanya membuat kopi dan kembali ke meja kerja, fika mendorong pegawai untuk pergi ke pantry bersama dengan pegawai lainnya agar memiliki waktu untuk saling bertukar kabar dan membicarakan hal-hal di luar pekerjaan. Dalam kondisi yang mengharuskan bekerja dari rumah, fika menjadi rekomendasi yang tepat untuk para pekerja sejenak meninggalkan layar dan meja kerja selama 15 menit untuk istirahat. Istirahat ini memberikan kesempatan pekerja untuk memperbaiki posisi duduk, melakukan stretching dan berinteraksi bersama anggota keluarga lainnya semisal pasangan dan anak-anak. 

Selain fika, lagom juga menghadirkan sebuah tradisi makan bersama setiap sore di hari Jumat yang dinamakan dengan fredagsmys. Esensi dari fredagsmys adalah berkumpul bersama orang-orang tersayang dan menikmati obrolan yang tenang dilengkapi dengan dekorasi lilin-lilin yang menyala di sekitar mereka. Tanpa TV, fredagsmys mengajak seluruh anggota keluarga dalam satu rumah meninggalkan pekerjaan mereka, tugas-tugas sekolah dan pekerjaan domestik. Kuncinya adalah memiliki momen kebersamaan yang bermakna dalam keadaan yang nyaman. Bahkan orang-orang Swedia merasa fredagsmys tidak lengkap tanpa mjukisbyxor, yaitu celana berbahan lembut dan ringan. Barangkali fredagsmys juga bisa kita terapkan saat ini, memiliki momen yang berkualitas dengan anggota keluarga akan menciptakan suasana harmonis di rumah sehingga mampu mencegah terjadinya konflik antar anggota rumah yang disebabkan oleh stress kerja. 

Dengan mencoba menerapkan beberapa tradisi lagom yang dijelaskan di atas, perusahaan-perusahaan mampu menggunakan jasa konsultan sektor publik terpercaya untuk senantiasa memantau kepuasan maupun ketidakpuasan kerja para pegawai sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan pemberian benefit kepada pegawai dalam rangka mempertahankan kualitas kinerja. Sebagai lembaga yang menyediakan jasa konsultan, Maxima Indonesia mampu membantu perusahaan Anda merancang dan mengelola program-program yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai meskipun mereka bekerja dari rumah. Bagaimana pun juga kesejahteraan pegawai tetap menjadi tanggung jawab perusahaan yang harus selalu diprioritaskan dalam kondisi apapun. 

 

Reference: 

Dunne, Linnea. (2017). LAGOM: The Swedish Art of Balanced Living. Running Press.

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200415162230-255-493865/tanda-stres-dan-kelelahan-saat-work-from-home [Diakses pada 23/09/2020]

https://www.hrdive.com/news/covid-19-is-causing-employees-to-work-longer-and-spend-more-time-in-meeting/576736/ [Diakses pada 23/09/2020]

Share This

Share this post with your friends!