Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS) Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan Maxima sebagai konsultan program dalam sebuah proyek sosial melalui pemberian beasiswa kepada mahasiswa berprestasi.

Ada 50 mahasiswa yang menerima manfaat tersebut dan sudah tergabung dalam Program Mahasiswa Cendekia, Empati, Religius, Disiplin, Aktif, Swadaya (CERDAS).

Muhammad Ilham, salah satu penerima beasiswa merasa bersyukur atas bantuan yang telah diterimanya. Dia bercerita, sejak ibunya meninggal, Ilham harus bekerja keras untuk mencari tambahan biaya kuliah.

“Saya merasa sangat terbantu dalam hal ekonomi, karena setelah ibu meninggal, saya harus mulai cari tambahan biaya pendidikan,” ujar mahasiwa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.

Tak hanya itu, melalui Program Mahasiswa CERDAS, Ilham juga merasa terfasilitasi untuk menemukan tujuan selanjutnya setelah lulus dari kuliah. Pasalnya, proyek sosial hasil kolaborasi BAZIS dan Maxima ini juga menyediakan asrama yang cukup dekat dengan kampus yang membuat para mahasiswa ini jauh lebih produktif.

“Dengan adanya asrama kampus, kita jadi bisa beraktivitas maksimal. Enggak kayak dulu lagi, habis kuliah pulang. Ditambah dengan adanya pembina akan membantu mengarahkan sesuai bidang dan menambah ilmu,” kata mahasiswa yang sedang menempuh studi semester 5 jurusan sosiologi ini.
Penerima manfaat lainnya adalah Putri Amalia Novianty. Mahasiswi jurusan keperawatan ini juga berbagi cerita tentang bagaimana dia belajar memaksimalkan potensi diri dengan berani berbagi pemikiran dan sudut pandang.

“Aku dari SMP sebenarnya suka nulis, tapi selalu malu buat share gitu ke orang. Akhir-akhir ini aku sudah mulai berani ngeshare pendapat atau tulisan aku di sosmed,” kata mahasiswa semester 5 ini.

Sebagai penerima beasiswa, Putri juga merasa mendapat dukungan untuk mengembangkan diri di bidang yang dia senangi. Anak ke-3 dari 4 bersaudara ini bercerita, sejak SMA ada banyak hambatan yang membuatnya merasa ragu untuk mengikuti kegitan di luar akademik. Sejak ada dana insentif prestasi, lanjut Putri, kekhawatiran itu pun jadi berkurang. Dia bahkan lebih bijak membagi waktu antara akademik maupun non akademik.

“Sebagai pengurus BEM, ketika ada agenda bisa pulang lewat jam 10 malam, bahkan pernah sampai jam setengah 1 pagi. Jadi semenjak masuk program mahasiswa CERDAS dan masuk asrama, aku jadi belajar dan dapet binaan gimana caranya bagi waktu,” ungkap Putri.

Mahasiswi yang berkuliah di Universitas Indonesia tersebut ini tengah aktif sebagai pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FIK UI bidang Kajian Strategis (Kastrat) serta terlibat dalam berbagai kepanitiaan.

Senada dengan Putri, Ilham juga memiliki kesibukan sebagai relawan yang tergabung dalam sebuah lembaga semi otonom di FISIP bernama FISIP Mengajar. Dalam komunitas itu, selain mengajar, Ilham juga dipercaya untuk menjadi ketua FISIP Mengajar.

Ilham bercerita, dia dan rekan – rekan biasa mengajar di lapak pemulung di kawasan Gunung Balong untuk mengajar anak-anak yang kurang mampu dari sisi ekonomi.

Mahasiswa yang bisa mendongeng ini juga memiliki cita-cita untuk melanjutkan S2-nya di jurusan antropologi. Dia memiliki mimpi untuk berkarier di tiga bidang yang sedang dia tekuni saat ini, seperti story teller yang ingin berkeliling dunia dan berbagi cerita serta membangun bisnis coffee shop sendiri.

Putri pun demikian. Meski mengambil jurusan keperawatan, dia justru bercita-cita menjadi Menteri Pendidikan. Latar belakang keluarga dan pengalamannya mendapat prestasi akademik di sekolah sejak kecil, membuat Putri sadar bahwa pendidikan sangat penting. Sayangnya, dia banyak melihat masih banyak orang yang belum sadar bahwa pendidikan itu penting sehingga kuliah hanya sekadarnya.

“Artinya, tujuan pendidikan itu enggak tercapai. Sampai akhirnya aku menganalisis sendiri fondasi kurikulum apa yang sesuai untuk Indonesia,” kata Putri.
Putri berharap bisa mendapat lebih banyak insight dari para founder komunitas atau startup untuk menginspirasinya dalam mengembangkan diri. (Klaudia Molasiarani)