Select Page

Potret Tenaga Kerja Indonesia

Pada tahun 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya penurunan angka pengangguran yang sangat signifikan. Hal ini dapat dilihat dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2019 tinggal sebesar 5,01% atau terendah setidaknya sejak 2005 yaitu sebesar 10,4 persen. Namun sayangnya, profil penduduk bekerja di Indonesia masih didominasi oleh penduduk dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar atau lebih rendah. Per Februari 2019, dari total penduduk bekerja yang sejumlah 129,36 juta orang, 40,51% memiliki tingkat pendidikan SD. Porsi paling banyak kedua ditempati oleh penduduk yang memiliki tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu sebesar 17,86%.

Jika dilihat dari sisi pengangguran, ternyata TPT paling besar terjadi pada penduduk lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yaitu mencapai 8,63%. Diikuti oleh TPT di tingkat Diploma I/II/III dan SMA yang masing-masing sebesar 6,89% dan 6,78%. Adapun TPT tingkat Universitas juga cukup tinggi yakni mencapai 6,24%.

Perlu dicatat bahwa data tersebut membandingkan seluruh pengangguran pada jenjang pendidikan tertentu terhadap jumlah angkatan kerja di tingkat pendidikan yang sama. Dengan begitu dapat memperlihatkan serapan tenaga kerja pada suatu jenjang pendidikan tertentu. Semakin tinggi TPT per jenjang pendidikan artinya ketersediaan lapangan kerja tidak sesuai dengan tenaga kerja hasil cetakan kurikulumnya. 

Perkembangan Profesi di Era Revolusi Industri 4.0 

Digitalisasi dalam dunia kerja memiliki dampak positif terhadap efektivitas kerja. Sejak ditemukannya komputer hingga maraknya penggunaan ponsel pintar yang dilengkapi dengan keterhubungan tanpa batas melalui koneksi data seluler, beragam profesi baru muncul dengan tawaran pekerjaan bebas tanpa ikatan perjanjian kerja ataupun upah yang diperoleh tanpa harus menunggu waktu gajian. Tidak terkecuali profesi dalam ranah Informasi dan Teknologi yang satu ini: Cyber Security

Dilansir dari Detik.com, cyber security adalah aktivitas untuk melakukan pengamanan terhadap sumber daya telematika demi mencegah terjadinya tindakan kejahatan cyber atau yang biasa disebut dengan cyber crime. Spektrum cyber security sangat luas, seperti pengamanan dari sisi jaringan, sistem operasi, keamanan data dan source code aplikasi. Institusi keuangan dan telekomunikasi secara rutin menyewa konsultan keamanan untuk melakukan pengujian sejauh mana sistem yang mereka miliki dapat bertahan dari serangan dan ancaman yang akan mengeksploitasi sistem tersebut. Kegiatan tersebut biasa disebut dengan Penetration Testing. Dari sisi sumber daya manusia, praktisi cyber security setidaknya dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu sebagai analis keamanan, spesialis forensik, dan hacker/peretas. 

Upaya Meningkatkan Keterserapan Lulusan SMK di Dunia Kerja melalui Pelatihan Pengembangan Profesional

Melihat permasalahan pengangguran yang didominasi oleh lulusan SMK dan tantangan dunia kerja di era Revolusi Industri 4.0, Mastercard bekerja sama dengan Yayasan Infradigital untuk menyelenggarakan Cyber Security Training Program. Cyber Security Training Program adalah Program Pelatihan dan Sertifikasi dalam bidang Cyber Security.  Program ini merupakan salah satu bagian dari program Mastercard Academy 2.0, sebuah flagship program yang dirancang untuk memberikan pengetahuan serta keterampilan digital yang penting untuk masyarakat Indonesia. Cyber Security Training Program ini ditujukan untuk 6000 siswa-siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jurusan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Jawa Barat.

Tidak cukup sampai disitu, Mastercard dan Yayasan Infradigital berkolaborasi dengan Yayasan Maxima Indonesia mengadakan program pelatihan persiapan kerja dengan tujuan untuk memberikan pembekalan pengembangan profesional kepada para calon lulusan SMK agar mereka mampu menjadi fresh graduates yang melewati tantangan-tantangan dalam proses mencari kerja maupun beradaptasi dengan baik di dalam lingkungan kerja mereka di masa depan. Program tersebut dinamakan dengan Professional Development Workshop.

Professional Development Workshop diselenggarakan secara daring dalam tiga sesi. Yang pertama adalah Sesi Pre-Training, dalam sesi ini peserta tergabung dalam Google Classroom untuk mendapatkan modul sebagai bahan bacaan dan mendapatkan beberapa tugas terkait persiapan memasuki dunia kerja sebelum mengikuti workshop. Yang kedua yakni Sesi Workshop di mana peserta mengikuti pelatihan dengan dua tema, yaitu Capacity to Work bersama Dinar Syarita Bakti (Senior Talent Acquisition Consultant) dan Capacity to Adapt bersama Ivan Ahda (CEO Maxima Indonesia). Terakhir, pada Sesi Post-Training peserta mendapatkan video rekaman workshop dan materi dari pembicara.

Pengembangan Kapasitas untuk Bekerja dan Beradaptasi

Capacity to Work
Workshop dengan topik “Capacity to Work” membahas rangkaian mencari pekerjaan, persiapan administrasi, tahapan seleksi kerja, negosiasi gaji dan aktivasi LinkedIn. Outcome dari sesi ini diharapkan peserta memahami alur persiapan dan seleksi kerja secara menyeluruh yang rata-rata digunakan oleh perusahaan. Pemateri sesi ini adalah Dinar Syarita Bakti (Senior Talent Acquisition Consultant). Sebanyak 177 peserta bergabung dalam sesi pelatihan ini.

Capacity to Adapt
Workshop dengan topik “Capacity to Adapt” dibawakan oleh Ivan Ahda (CEO Maxima Indonesia). Workshop tersebut dibagi menjadi dua sesi, sesi pertama diikuti oleh 80 peserta sedangkan sesi kedua diikuti oleh 118 peserta. Di kedua sesi, pemateri membawakan materi dengan cara studi kasus baik dari video maupun berita. Selain itu, peserta juga mendapatkan pengalaman untuk berdiskusi dalam kelompok dan membuat rencana aksi secara daring yang dipandu oleh fasilitator.

Share This

Share this post with your friends!