Select Page

Oleh Aditya Kusumanegara Gusnawan

 

Pernahkah kalian membayangkan hidup tanpa adanya media sosial? Media sosial telah menjadi sebuah bagian hidup yang terkesan harus untuk dimiliki pada era digital ini. Meskipun penulis tidak begitu menyukai media sosial yang berlandaskan ide bahwa menunjukan kehidupan pribadi adalah sesuatu yang trendy untuk dilakukan, penulis sendiri menggunakan berbagai media sosial lainnya untuk menjalani kehidupan sehari-hari atau untuk keperluan inspirasi (seperti Pinterest atau Line).

Dengan media sosial, orang-orang menjadi lebih mudah untuk terhubung dengan orang lain tanpa harus memikirkan jarak yang memisahkan mereka. Meski kalian berada di Jakarta dan teman kalian berada di Bandung atau bahkan dipisahkan Samudera Pasifik pun, kalian akan tetap mampu untuk berkomunikasi dengan teman kalian. Modal yang yang kalian butuhkan hanyalah seperangkat alat shal—seperangkat gadget serta penyedia layanan internet yang berfungsi dengan baik (dan juga kuota internet tentunya). Begitu mudahnya akses yang kita miliki saat ini untuk dapat merasa ‘terhubung’ dengan orang lain.

Kemudahan untuk berinteraksi dengan banyak orang datang dengan konsekuensinya sendiri. Dengan segala manfaat yang dapat dirasakan dari penggunaan media sosial, hal-hal negatif yang dapat disebabkan oleh penggunaan media sosial juga akan turut serta mendampinginya. Salah satu dari dampak negatif dari penggunaan internet tersebut adalah sebuah fenomena yang dikenal sebagai cyber-bullying.

Menurut laporan dari CBS News pada tahun 2010, terdapat 42% dari pemuda-pemudi yang tercatat sebagai pengguna media sosial yang mengaku pernah menjadi korban cyber-bullying. Sebuah survei yang dilakukan pada 11.000 murid sekolah di Inggris juga menyatakan bahwa sekitar 7% atau 770 anak mengakui pernah menerima pesan elektronik yang membuat mereka tidak nyaman atau mengancam (Noret & Rivers dalam Smith et al., 2008). Padahal, survey itu dilakukan pada tahun 2005 lho, pada masa ketika handphone masih merupakan barang yang mewah, juga belum ada fasilitas aplikasi chatroom yang mutakhir seperti Line atau Whatsapp (siapa yang masih ingat atau pernah menggunakan MSN?).

Saat ini, sebagian besar dari kita sudah memiliki handphone dan akses internet, sehingga kita semua, bahkan adik-adik yang masih berumur 10 tahun pun, berisiko untuk mengalami cyber-bullying. Untuk dapat mengantisipasi atau mengatasi cyber-bullying, kalian perlu memahami terlebih dahulu seluk-beluk dari cyber-bullying. Yuk, simak kajian berikut:

 

Apa itu Cyber-bullying?

Cyber-bullying adalah bentuk lain dari bullying, sebuah perilaku agresif yang secara sengaja dilakukan kepada para korban yang dinilai sulit untuk melindungi dirinya sendiri secara berulang-ulang pada jangka waktu yang cukup panjang (Olweus, 1993). Bedanya, cyber-bullying dilakukan pada ruang dunia maya seperti internet atau aplikasi chat di handphone-mu.

 

Apa Saja Bentuk dari Cyber-bullying?

Cyber-bullying memiliki berbagai bentuk, dari pesan tidak mengenakan yang dikirim melalui chatroom, penyebaran rumor negatif tentang dirimu di media sosial, telefon tidak dikenal yang mengancam dirimu, atau bahkan penyebaran gambar/foto/video yang memalukan dirimu. Begitu-begitu, pelaku Cyber-bullying juga merupakan orang yang terbilang kreatif dalam melancarkan aksinya.

 

Mengapa Cyber-bullying Berbahaya?

Cyber-bullying menjadi berbahaya karena banyaknya akses yang dimiliki oleh orang lain terhadap dirimu. Mudahnya akses internet dengan bantuan gadget dan aplikasi media sosial membuat pelaku menjadi semakin mudah untuk memiliki bahan untuk mem-bully seseorang. Sebagai contohnya, coba saja lihat  comment section dari post selebgram seperti Awkarin. Ia harus menghadapi berbagai komentar pedas mengenai dirinya setiap hari di media sosial yang ia miliki. Menjadi selebriti yang berada pada spotlight dari publik juga datang dengan konsekuensinya sendiri, bukan hanya nikmat yang didatangkannya.

Pelaku cyber-bullying juga dilindungi oleh anonimitas yang disediakan oleh internet. Maksudnya, pelaku cyber-bullying dapat melancarkan aksinya tanpa harus khawatir untuk menampakkan mukanya kepada korban. Ia dapat saja membuat fake account atau menyamarkan namanya sendiri dan mengaku menjadi orang lain ketika melancarkan aksinya. Bila bullying biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki badan yang lebih besar atau teman-teman yang lebih banyak dibandingkan korban, cyber-bullying membuat perilaku bullying dapat dilakukan oleh siapa saja dengan akses internet dan niat buruk terhadap seseorang. Bahkan orang-orang yang biasanya berdiam diri di dunia nyata pun dapat menjadi orang lain seutuhnya di dunia maya.

 

Apa Saja Dampak dari Cyber-bullying?

Seperti bullying pada umumnya, cyber-bullying dapat mengganggu keseharian korbannya. Korban dapat merasakan kesepian (misalnya karena sebuah gambar aib yang beredar tentang dirinya, sehingga orang-orang menjauhi dirinya) atau mengalami kondisi kecemasan yang tinggi (Campbell, et al. dalam Bonnano & Hymel, 2013). Korban cyber-bullying juga berisiko untuk mengalami keinginan bunuh diri (Bonnano & Hymel, 2013). Bahkan, pada beberapa kasus yang pernah diberitakan pada media massa, korban cyber-bullying ada yang sampai meninggal dunia karenanya. Alexis Pilkington, seorang remaja asal Long Island, New York, merupakan korban dari cyber-bullying yang mengakhiri hidupnya sendiri. Cyber-bullying yang diterimanya bahkan masih berlanjut setelah kematiannya (CBS, 2010). Hal ini menandakan bahwa bullying, dalam bentuk apapun bukanlah hal yang main-main untuk dilakukan.

 

Apakah Ada Cara untuk Menghindari Cyber-bullying?

Ada, tentunya. Berbagai media sosial telah menyediakan fitur block atau semacamnya (yang penulis yakin kalian semua sudah tahu tentangnya) yang memberikan hak kepada kita, sebagai pemiliki account, untuk memblokir akses orang lain terhadap nomor atau account terkait. Berbagai media sosial juga menyediakan fitur seperti private account atau friend request yang membuat orang lain harus meminta izin kepada pemilik account untuk mengakses account mereka. Pengguna media sosial juga disarankan tidak memberikan informasi pribadi seperti alamat rumah dan nomor handphone agar kehidupan pribadi kalian tidak terganggu oleh orang-orang yang ingin mengganggu kalian. Bila kita menggunakan media sosial secara bijak, hal tersebut dapat mengurangi kemungkinan terjadinya cyber-bullying terhadap diri kita.

Bila kalian sudah terlanjur mengalami cyber-bullying dan merasa terganggu dengannya, kalian disarankan untuk bercerita mengenai pengalaman tersebut kepada orang yang kalian percayai dan nyaman untuk bercerita. Orang tua, kakak, sahabat, guru, siapa saja yang kalian rasa dapat mengerti diri kalian dapat kalian jadikan tempat untuk curhat. Hal ini perlu dilakukan agar kalian tidak menghadapinya sendiri dan memiliki dukungan serta kekuatan untuk menghadapinya. Cara ini pun sudah banyak dilakukan pada sekolah-sekolah di Inggris lho (Smith et al. dalam Smith et al., 2008). Bila ada di antara kalian yang merasa tidak tahan lagi dengan kejadian yang menimpa diri kalian dan merasa memiliki pikiran untuk bunuh diri, kalian juga dapat menghubungi hotline 500-454. Hotline tersebut akan melayani kalian dan mencoba untuk membantu kalian dalam menghadapi situasi tersebut.

Secara keseluruhan, cyber-bullying adalah sebuah perilaku yang dapat menyebabkan masalah yang nyata. Ironisnya, Smith et al. (2008) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mendasari adanya perilaku cyber-bullying adalah karena perlakuan tersebut dianggap menyenangkan oleh pelakunya. Ia juga menambahkan bahwa pelaku cyber-bullying juga terkadang didukung oleh teman-teman di sekitarnya setelah mem-bully orang lain. Sehingga, perilaku ini justru malah diperkuat karena adanya rasa social prestige atau gengsi yang terlibat di dalamnya. Jadi, bagi kita semua pengguna internet dan media sosial, marilah kita semua lebih bijak dalam menggunakan akses yang kita miliki dan nikmati bersama ini. Sesungguhnya lebih baik mencegah daripada mengobati. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan karena kalian menghina orang lain dengan alasan bahwa hal tersebut ‘lucu’ atau ‘menyenangkan’. Tidak ada yang menyenangkan ketika harga diri kalian diinjak-injak oleh orang lain.

 

 

 

 

Referensi:

Bonnano, R. A. & Hymel, S. (2013). Cyber Bullying and Internalizing Difficulties: Above and Beyond the Impact of Traditional Forms of Bullying. Journal of Youth and Adolescence, 42, 685-697. DOI 10.1007/s10964-013-9937-1

Columbia Broadcasting System. (2010). Cyber-Bullying Continued after Teen’s Death. Diakses dari http://www.cbsnews.com/news/cyberbullying-continued-after-teens-death/

Olweus, D. (1993). Bullying at school: What We Know and What We Can Do. Oxford: Blackwell.

Smith, P. K., Mahdavi, J, Carvalho, M., Fisher, S., Russell, S., & Tippett, N. (2008). Cyberbullying: Its Nature and Impact in Secondary School Pupils. The Journal of Child Psychology and Psychiatry, 49(4), 376-385.

Sumber: http://www.familywellnessinitiative.com/socialmediaandbullying