Select Page

Diantara dua option di atas, manakah yang paling sering mempengaruhi pengambilan keputusanmu?

Jika kita tergabung di dalam suatu bisnis, organisasi, atau komunitas yang berhubungan dengan kerjasama tim, maka ada kondisi dimana kita harus memutuskan, merencanakan, atau membuat suatu hal untuk melakukannya dengan menggunakan kedua pilihan di atas. Kebanyakan dari masyarakat yang tergabung didalamnya, lebih suka doing the things right dibanding doing the right things (selanjutnya disebut DTTR dan DTRT), dan kita dapat menemukan dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa? Karena DTTR adalah seorang yang suka berpikir taktis. ¹Hal ini didukung John Tabita yang juga seorang Digital Business Marketer bahwa seseorang yang sering do the things right adalah tactical thinking, expert dalam hal management, implementing vision.
Kenapa demikian?

DTTR umumnya dilakukan oleh seorang follower, kenapa? karena sudah ada si pemimpin yang memberikan terms things right itu A, things wrong itu B, sehingga lebih memilih untuk menyelesaikan yang sudah ada untuk mencapai suatu tujuan-tujuan yang sudah dirancang.

DTTR adalah pilihan dengan ukuran yang relatif mudah dilihat biasanya kalo gak mentok di hambatan biaya ya hambatan rules.

DTTR merupakan pilihan tanpa resiko, pilihan para safety player dan juga pilihan yang berpatokan pada keadaan masa kini..

SEBALIKNYA,

DTRT adalah pilihan idealis, ²pilihan seorang leader (strategic thinking is creating vision) . Pilihan yang patokannya bisa jadi subjektif dan tidak jelas (tergantung pada nilai-nilai yang ada pada si DTRT-ers), pilihan yang visioner, dan sekaligus pilihan yang mungkin membawa tujuan akhir pada kesesatan (untuk sebagian orang yang berpikir demikian). DTRT adalah pilihan para pemberani dan pilihan orang-orang yang yakin dengan dirinya untuk pengorganisasian yang lebih baik dan tentunya untuk orang banyak. ³Kalau kata Peter Ducker yang juga seorang educator bahwa strategic thinkers’ ialah mereka yang lebih mengutamakan keefektifan. Karena keefektifan ialah sebuah ukuran luar dari proses yang dihasilkan dan juga kualitas.
Masih bingung? Mari kita diskusikan dengan contoh kasus di bawah ini:

1. OSPEK : pola pendidikan pengenalan pada mahasiswa ini umumnya masih mengajarkan para mahasiswa untuk DO THE THINGS RIGHT! sesuai TATIB atau sesuai keinginan panitia/senior, padahal yang tahu apakah pilihan metode itu merupakan pilihan yang tepat untuk peserta adalah dirinya sendiri.

2. Korupsi yang berhasil alias gak ketahuan. Ketika melakukan the things right, sehingga gak terdeteksi hukum dan juga sangat efektif membuat proyek – proyek (yang entah bermanfaat/enggak untuk masyarakat) berjalan lancar tapi dimana nilai-nilainya?

–bisa diacukan pada IPK Global untuk Indonesia menempati posisi 107 dari 175 negara di dunia dengan skor 34 dari skala 0-100 (0 berarti sangat korup dan 100 berarti sangat bersih) berarti warga/pejabat publik Indonesia banyak yang tergolong safety player, manajemen sesuatu hal yang gak tepat untuk melancarkan proyek-proyek yang gak bernilai secara moral. Hehehe…

  1. Kasus pemilihan BEM terkini pada sebuah universitas: hanya ada satu calon yang lolos verifikasi, tapi karena berbenturan dengan aturannon sense (yang membolehkan perpanjangan batas waktu pengumpulan syarat verifikasi untuk calon lain yang TIDAK LOLOS verifikasi TANPA konsekuensi lanjutan *misal potong suara, dsb), akhirnya bisa jadi kelak si calon yang gak siap ini yang akan menang, IRONIS. Dari kecil dididik seperti ini hanya karena si panitia merasa dia harus melakukan segala sesuatunya secara benar menurut aturan (yang entah siapa yang bikin itu dan karena apa?).Contoh DTRT? baca saja The Alchemist-nya Paulo Coelho atau bacalah kisah-kisah pemimpin yang mati di tengah jalan (mati ditembak, mati diracun, mati dengan cara lainnya) karena memperjuangkan kebenaran.

Dengan ini seharusnya kita bisa menyadari which type of thinker we are. Kita yakini bahwa cara berpikir kita harus unggul yang diseleraskan dengan aksi. Terlepas dari itu, yang mana diri kita adalah seorang tactical thinker atau strategic thinker, kita juga harus meyakini bahwa keduanya adalah cara berpikir kritis menuju kesuksesan. Probably it is better to say, “doing the right things right”. 

References:

¹ http://www.sitepoint.com/
² http://www.sitepoint.com/
³ http://www.opia.psu.edu/sites/default/files/insights006.pdf
http://www.ti.or.id/index.php/press-release/2014/12/03/corruption-perceptions-index-2014-perhatian-indonesia-harus-lebih-serius-memberantas-korupsi

 

By: Maghleb Yudinna Elmir – Business Support Director of Maxima Indonesia

Share This

Share this post with your friends!