Select Page

Semakin berkembangnya zaman, ternyata seseorang cenderung lebih mudah mengembangkan gangguan kecemasan yang berujung depresi. Orang tua yang mengalami gangguan kecemasan cenderung memiliki anak yang bermasalah dengan kecemasan juga sehingga sangat penting bagi orang tua untuk menjaga kesehatan mentalnya sendiri dan anaknya.

Perlu diketahui bahwa depresi bukan hanya sekedar kesedihan, orang yang depresi mungkin mengalami rasa tidak semangat dalam kehidupan sehari-hari, penambahan atau penurunan berat badan yang signifikan, insomnia atau tidur yang berlebihan, tidak bertenaga, tidak bisa konsentrasi, merasa tidak berharga atau perasaan bersalah yang berlebih, serta munculnya pikiran tentang kematian dan bunuh diri secara berkala (American Psychologycal Association, 2017).

Menurut data National Institute of Mental Health (NIMH) yang berbasis di USA merilis data terkait remaja yang paling tidak mengalami satu gejala depresi dalam 12 tahun terakhir pada tahun 2014.

 

  • 17.3% remaja perempuan mengalami keadaan depresif pada 2014
  • 5.7% remaja laki-laki mengalami keadaan depresif pada 2014
  • 5.7% remaja depresi berusia 12 tahun.
  • 8.7% remaja depresi berusia 13 tahun.
  • 10.7% remaja depresi berusia 14 tahun.
  • 13.0% remaja depresi berusia 15 tahun.
  • 14.1% remaja depresi berusia 16 tahun.
  • 15.1% remaja depresi berusia 17 tahun.

Selain itu, NIMH juga mengungkapkan bahwa 2.8 juta remaja dengan rentang usia 12-17 tahun mengalami paling tidak satu momen depresi di 2014.

 

Sedangkan data yang disajikan oleh NIMH pada tahun 2015 terkait depresi yang terjadi mengalami sedikit perubahan dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2015, persebaran remaja yang mengalami depresi sebagai berikut

 

  • 19.5% remaja perempuan mengalami keadaan depresif pada 2015
  • 5.8% remaja laki-laki mengalami keadaan depresif pada 2015
  • 5.4% remaja depresi berusia 12 tahun
  • 10.2% remaja depresi berusia 13 tahun
  • 11.5% remaja depresi berusia 14 tahun
  • 16.1% remaja depresi berusia 15 tahun
  • 16.0% remaja depresi berusia 16 tahun
  • 15.0% remaja depresi berusia 17 tahun

Berdasarkan data pada dua tahun tersebut, dapat dilihat  bahwa trend depresi pada remaja di berbagai usia mengalami pergeseran. Remaja berusia 12 tahun mengalami penurunan persentase pada dua tahun yang berbeda. Sedangkan remaja pada usia 13 sampai 16 tahun mengalami kenaikan jumlah persentase kejadian depresif dari 2014 ke 2015. Peningkatan persentase yang paling tinggi berada pada usia 15 tahun. Pada tahun 2014, remaja yang berusia 15 yang mengalami episode depresi sebesar 13%  sedangkan pada 2015 meningkat menjadi 16,1%. Terdapat peningkatan 3% pada remaja berusia 15 tahun di dua tahun yang berbeda.

 

Mengapa remaja lebih rentan terkena depresi?

Dilansir dari dailymail.co.uk, Profesor Theodore Satterthwaite dari University of Pennsylvania mengatakan, masa remaja atau pubertas adalah proses biologis yang menentukan perkembangan remaja baik secara fisiologi maupun psikologi. Namun, dampak yang terjadi dari proses ini masih kurang mendapatkan penjelasan yang nyata. Salah satu dampak yang terasa adalah remaja menjadi lebih sensitif sehingga rentan depresi.

Hal ini terjadi karena ketika memasuki masa remaja terjadi pemasukan aliran darah yang sangat besar ke otak. Bagian dari otak yang tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup akan menjadi daerah yang sensitif dan rentan akan kecemasan serta depresi, bahkan hal ini dapat berdampak buruk pada remaja wanita. Mereka memiliki struktur otak yang berbeda dengan pria sehingga memiliki risiko yang lebih besar untuk terkena skizofrenia. Hormon estrogen yang memasok darah yang lebih banyak ke otak pada tubuh wanita juga menjadi salah satu alasannya.

 

Lalu, mengapa remaja wanita yang lebih rentan terkena depresi?

Banyak faktor yang menyebabkan seorang perempuan rentan mengalami depresi, mulai dari faktor hormonal, tekanan sosial, dan bagaimana cara perempuan menghadapi stres. Faktor biologis dan hormonal misalnya saat premenstruasi, kehamilan, melahirkan dan menopause di mana merupakan periode seorang perempuan rentan mengalami depresi. Selain faktor biologis, faktor psikologis pun juga berperan. Perempuan biasanya terlalu banyak menonjolkan perasaan dan  mengedepankan pikiran negatif. Perempuan cenderung memendam perasaan saat depresi, atau menangis untuk menyalurkan emosi.

Penyebab lain yaitu perempuan lebih mudah stress, baik di tempat kerja maupun di lingkungan keluarga. Hal ini diperkuat dengan respon tubuh perempuan dalam menghadapi stress yang berbeda dengan laki-laki. Perempuan memproduksi lebih banyak hormon stress dibandingkan laki-laki. Selain itu, adanya hormon progesteron pada perempuan akan menghambat sistem hormon stress untuk menonaktifkan diri, tidak seperti pada laki-laki.

Satu lagi penyebab perempuan rentan mengalami depresi adalah terkait dengan body image.  Perempuan sangat mudah terganggu dengan isu bentuk atau tampilan tubuh. Hal ini sudah dirasakan sejak masa remaja. Faktor sosial seperti hubungan dengan pasangan, keluarga dan kerabat yang tidak harmonis juga bisa menjadi pemicu depresi pada perempuan.

#####

Jika sering mengalami depresi, sebenarnya hal ini dapat diatasi sedini mungkin dengan mengenal lebih jauh inner child (ego personality) diri sendiri.

Nah, Max mengajak kalian untuk mengikuti public training:
“Love Your Inner Child”
bersama Coach Asep.

Sabtu-Minggu,
19-20 Agustus 2017
08.30-17.00 WIB
Di Hotel Sofyan, Tebet.

 

 

Daftar pustaka

Egede, L., & Ellis, C. (2010). Diabetes and depression: Global perspectives. Diabetes Research And Clinical Practice, 87(3), 302-312. http://dx.doi.org/10.1016/j.diabres.2010.01.024

Anderson JC, McGee R (1994), Comorbidity of depression in children and adolescents. In: Handbook of Depression in Children and Adolescents, Reynolds WM, Johnson HF, eds. New York: Plenum, pp 581-601

American Psychological Association

World Health Organization

teenhelp.org

https://www.merdeka.com/sehat/ini-alasan-medis-kenapa-banyak-remaja-mengalami-depresi.html

Inilah Alasan Perempuan Lebih Rentan Depresi