Inspiring Lecture Paragon (ILP) kembali mengadakan pembekalan keterampilan kunci pada hari Sabtu, 24 Juli 2021. ILP sendiri adalah sebuah program capacity building yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kapasitas dosen perguruan tinggi di Indonesia dengan harapan mampu membekali dosen dalam menjadi teladan dan penggerak utama di lingkup pendidikan Indonesia. 228 dosen mengikuti acara ini tanpa dipungut biaya, dan program ini dilaksanakan secara daring. 

Pada acara pembekalan keterampilan kunci, terdapat dua narasumber yang hadir, yaitu Bapak Sahala Harahap dan Ibu Meiliana Lany. Kedua narasumber adalah anggota dari International Association of Facilitators (IAF) Indonesia, sebuah asosiasi yang membuat penetapan standar fasilitasi dan memberikan tempat belajar untuk menjadi fasilitator profesional. Sesi pertama dari acara ini dimulai oleh Bapak Sahala Harahap yang membawakan materi mengenai Fasilitasi dan Pembelajaran Ramah Otak, dimana ia menjelaskan tentang cara-cara untuk mengolah informasi dan fasilitasi. Belajar aktif memerlukan fasilitasi, dimana fasilitasi sendiri adalah sebuah proses untuk membantu pelajar menarik makna dari pengalaman yang dialami. Untuk menjadi seorang fasilitator, para dosen memerlukan tiga sifat esensial dalam pribadi mereka: grounded with materials (mempunyai pengetahuan tentang materi ajar), connected with participants (mampu berempati dengan pelajar), dan aware of own’s hidden agenda (bebas dari kepentingan pribadi). Cara-cara yang dapat dicoba oleh para dosen untuk meningkatkan fungsi otak para pelajar adalah melalui rote rehearsal (pengulangan informasi atau tindakan) dan elaborative rehearsal (elaborasi informasi yang diulang).

Ibu Meiliana pun membawakan materi yang sama, yaitu mengenai facilitation skills. Namun, materi yang diterangkan tetap berbeda. Di awal sesi, Ibu Meiliana memaparkan cara-cara yang bisa digunakan para dosen untuk mempersiapkan jalannya kuliah, dan cara-cara tersebut dibagi kedalam tiga tahap: sebelum, saat, dan setelah sesi belajar. Pada tahap sebelum sesi belajar, para dosen diajarkan untuk membuat kesepakatan aturan belajar dengan pelajar, membuat pelajar sadar tentang tujuan pembelajaran mereka, dan merancang proses belajar dengan berbagai metode. Pada tahap sesi belajar berlangsung, para dosen dianjurkan untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran, seperti dengan memakai studi kasus, mengobservasi jalannya proses pembelajaran, melakukan diskusi dengan topik yang bervariasi, dan bantu pelajar untuk merangkum pemahaman mereka. Pada tahap akhir sesi belajar, para dosen bisa mengajak pelajar untuk menarik intisari dari pembelajaran, meminta pelajar mengaplikasikan materi yang mereka pelajari, dan memberikan lembar evaluasi pembelajaran kepada pelajar. Ibu Meiliana juga membahas tentang jenis-jenis konfigurasi yang bisa dipakai di kelas, seperti plenary, small group, triad, dyad, dan individual reflection. Terakhir, Ibu Meiliana menjelaskan tentang Gaya Belajar VARK (Visual, Auditoris, Read-Write, dan Kinesthetic), dimana pelajar diketahui bisa menyerap ilmu dari satu atau gabungan keempat modalitas belajar tersebut.

Pembekalan keterampilan kunci pun berjalan dengan dinamis, dimana para narasumber menyediakan banyak waktu untuk berinteraksi secara aktif dengan partisipan seperti untuk menanyakan bagaimana cara pengajaran yang dipakai para dosen. Sesi-sesi group discussion antara para dosen yang dipandu oleh seorang fasilitator juga membantu untuk memahami materi facilitation skill secara langsung.

Share This

Share this post with your friends!