Select Page

Semenjak pandemi Covid-19 melanda dunia, sistem pekerjaan mau tidak mau beralih ke work from home (WFH). Namun, saat ini, the new normal mulai diterapkan dan berbagai perusahaan pun mulai menerapkan work from office (WHO) sesuai dengan protokol kesehatan. Meski begitu, masih terdapat perusahaan yang menerapkan WFH, sehingga pekerja melakukan pekerjaan secara remote.

Bekerja remote sudah tidak asing dan dimulai dari dulu. Dilansir dari CNBC, terdapat sebuah studi yang dirilis oleh Zug, sebuah layanan penyedia kantor di Swiss, IWG, menemukan bahwa 70 persen pekerja profesional bekerja dari jarak jauh (telecommuting) setidaknya sehari dalam seminggu. Sementara, 50 persen pekerja profesional bekerja dari jarak jauh setidaknya 3 hari seminggu.

Sistem bekerja jarak jauh memiliki berbagai manfaat, salah satunya fleksibilitas, sehingga pekerja yang memiliki anak tetap bisa bekerja tanpa perlu meninggalkan anak. Namun, di balik fleksibilitas yang ditawarkan, terdapat dampak negatif yaitu rentan mengalami stres.

Dilansir dari tirto.id, menurut sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2017, menemukan bahwa 42 persen pekerja yang memilih bekerja dari jarak jauh, mengalami tingkat stres yang tinggi. Sementara itu, hanya 25 persen pekerja yang bekerja di kantor, mengalami hal yang sama.

Bekerja remote secara efektif dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif yang timbul dari bekerja remote. Lalu, bagaimana caranya untuk bekerja remote yang efektif?

 

Cara agar Bekerja Remote Efektif

Claire Cain Miller dalam The New York Times, menyebutkan bahwa terdapat beberapa perusahaan yang memburuk akibat bekerja dari jarak jauh. Hal ini dikarenakan bekerja dari jarak jauh tidak berfungsi baik bagi beberapa perusahaan. Maka, untuk mengantisipasi hal ini dan kesehatan pekerja, diperlukan cara agar bekerja dari rumah efektif dan berfungsi dengan baik.

Menurut Claire Cain Miller terdapat 5 cara yang dapat diimplementasikan bagi pekerja dan perusahaan agar bekerja remote efektif, yaitu:

  1. Menentukan waktu bekerja dan tidak bekerja

Perusahaan tidak berhak untuk memaksa pekerja melakukan pekerjaan setiap saat, dikarenakan pekerja juga membutuhkan waktunya untuk beristirahat. Dalam hal ini, menjadi penting bagi perusahaan dan pekerja menetapkan waktu kapan dimulainya dan berakhirnya pekerjaan, sehingga pekerja dapat fokus bekerja.

  1. Menilai kinerja bukan banyaknya jadwal

Dalam bekerja, tentunya terdapat evaluasi bagi pekerja. Maka, sebaiknya evaluasi itu lebih kepada kinerja, bukan pada banyaknya jadwal bekerja. Diperlukan pula peran manajer untuk memberitahu goals yang diharapkan dari project atau pekerjaan yang dilakukan, kemudian serahkan kepada pekerja bagaimana mencapai goals tersebut. Perusahaan dan pekerja tidak harus mengimplementasikan waktu kerja tradisional, yang mengharuskan hadir dan selalu ada di ruang meeting, secara daring misalnya, dari pukul 09.00 sampai 17.00.

  1. Memprioritaskan rapat yang dibutuhkan

Bekerja remote yang menyediakan fleksibilitas, bukan berarti menjadi ajang untuk melakukan rapat daring secara terus menerus. Jika hal ini dilakukan dapat berdampak pada kejenuhan dan kerentanan stres, yang akan dialami oleh pekerja. Menentukan rapat yang dibutuhkan serta memprioritaskannya menjadi penting untuk mengefektifkan kerja remote. Kemudian, rapat sebaiknya dibuat berdurasi singkat dan dalam sekala yang kecil, sehingga terdapat jeda untuk pekerja menyegarkan pikiran dan tenaganya. Selain itu, catatan yang rinci juga diperlukan agar pekerja yang tidak hadir dapat mempelajarinya.

  1. Saling berhubungan dengan rekan kerja

Semenjak diberlakukannya bekerja remote, hubungan antar rekan kerja dapat memudar, dikarenakan bekerja lebih sering dilakukan secara individu dan lebih berfokus pada pekerjaan yang lebih baik. Maka, untuk mengatasi hal ini, melakukan panggilan khusus dengan rekan kerja diperlukan, selain video call untuk menindaklanjuti pekerjaan. Bisa pula mengirim surat, paket atau mengajak berjalan sebentar, dengan tujuan meningkatkan hubungan persahabatan dengan rekan kerja.

  1. Menyertakan semua orang

Pekerjaan dari jarak jauh dapat membuat seseorang merasakan dikecualikan, dikarenakan pekerja akan lebih aktif berkomunikasi dengan rekan kerja yang dikenali dan berhubungan dekat. Maka, menyertakan semua orang untuk terlibat dalam pekerjaan diperlukan. Hal ini dapat dilakukan dengan berkumpul bersama semua pekerja via video call agar pekerja saling mengenal rekan kerja dan tentu lebih mengenal perusahaan.

 

5 cara dari Claire Cain Miller dapat diimplementasikan agar menimbulkan suasana baru dalam bekerja remote dan meningkatkan efektivitas dalam bekerja remote. Selain itu, cara tersebut bisa mengatasi kejenuhan dan stres tingkat tinggi yang dialami pekerja.

Maxima Indonesia juga menerapkan cara ini kepada karyawannya. Rapat wajib hanya dilakukan selama 30 menit dan dihadiri oleh semua karyawan sehingga karyawan dapat saling mengenal. Fungsi dari rapat wajib ialah daily scrum, untuk mengetahui kinerja karyawan per harinya dan kegiatan apa yang dilakukan karyawan untuk mencapai tujuan dari tiap divisinya.

Maxima Indonesia terus berupaya untuk menjaga lingkungan kerja yang efektif, meski dalam bekerja remote sekalipun, sehingga Maxima Indonesia, selaku konsultan sektor publik, dapat memberikan pelayanan terbaik kepada mitra kerjanya dari berbagai sektor publik dan hasil yang diperoleh dapat maksimal dan optimum.

 

Source:

CNBC. 2018. 70% of People Globally Work Remotely at Least Once a Week Study Say. https://www.cnbc.com/2018/05/30/70-percent-of-people-globally-work-remotely-at-least-once-a-week-iwg-study.html [Diunduh pada 5 Agustus 2020]

International Labour Organization [ILO], Eurofound. 2017. Working Anytime, Anywhere: The Effects on The World of Work

Claire Cain Miller, The New York Times. 2020. Remote Work Isn’t Working? Maybe Your Company is Doing it Wrong. https://www.nytimes.com/2020/07/31/upshot/remote-work-tips.html [Diunduh pada 5 Agustus 2020]

Tirto.id. 2019. Hasil Studi Sebut Remote Working Bisa Picu Stres dan Masalah Mental. https://amp.torto.id/hasil-studi-bisa-picu-stres-masalah-mental-ekUW [Diunduh pada 5 Agustus 2020]

Photo by Mikey Harris on Unsplash

Share This

Share this post with your friends!