Oleh Amilia Amin

Mahasiswi Psikologi 2014 – Universitas Indonesia

Halo Maximizer!

Kalian pasti memiliki hobi kan? Apa sih hobi kalian? Pasti macam-macam ya. Ada yang menyukai memasak, ada yang menyukai melukis, ada juga yang suka bercerita dengan orang banyak. Tetapi, pernahkah kalian berpikir, “apakah yang akan kulakukan dengan hobiku ini?” , apakah ini hanya sekedar hobi atau kalian ingin menjadikannya lebih serius lagi? Sebenarnya nih, hobi kalian ini bisa membantu kalian menjadi sukses, lho.

Banyak orang yang berhasil dan sukses karena mereka melakukan hobi mereka. Kalian pasti mengenal Chandra Liow kan? Dia bisa sukses karena dia melakukan hal yang dia sukai yaitu membuat video-video berkualitas di Youtube. Saat ini subscribers Chandra sudah mencapai 1.251.091.

Chandra Liow sudah membuktikan bahwa dia dapat terkenal karena dia telah melakukan apa yang disukainya. Tetapi, apa sih rahasia yang membuat Chandra sukses? Apakah dia hanya melakukan hobinya aja? Atau justru ada hal lain yang membantu dia menjadi sukses? Melakukan hobi yang kalian suka saja tidak cukup untuk dapat sukses. Ada satu kunci lagi nih yang kalian butuhkan untuk bisa menjadi sukses. Yep! Persisten (kalian pasti udah baca di judul ya? Hahaha) Well, sebenarnya persisten itu apa sih? Mari kita lihat ulasan lebih lanjut!

Persisten itu apa sih?

Baiklah, Maximizer. Sudah disinggung sebelumnya bahwa hanya dengan melakukan hal yang kita suka tanpa adanya persisten, maka kita tidak akan bisa menjadi orang yang sukses. Tetapi sebenarnya, apa itu arti dari persisten? Jadi, persisten adalah salah satu kekuatan karakter yang dikemukakan oleh Seligman & Peterson (2004) dan menurut mereka, persisten itu adalah kelanjutan dari tindakan sukarela yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan walaupun ada hambatan, kesulitan atau keputusasaan.

Maximizer mungkin bingung persisten itu munculnya dari mana? Nah menurut Seligman & Peterson (2004), sebenernya persisten itu komponen dasarnya adalah kekuatan kehendak (the power of will). Dapat dikatakan bahwa persisten itu munculnya dari diri sendiri, tepatnya ketika kita memiliki kehendak untuk melakukan apa yang kita suka. Seligman & Peterson (2004) juga mengatakan bahwa yang menjadi penghambat dalam individu bukan ketakutan melainkan kebosanan, frustasi, kesulitan dan godaan untuk melakukan sesuatu yang lebih mudah dan lebih menyenangkan.

Jadi Maximizer, hambatan terbesar kita dalam melakukan apa yang kita lakukan yaitu rasa bosan, frustasi dan adanya godaan untuk melakukan hal lain yang lebih mudah dan menyenangkan untuk dilakukan. Sehingga memang ketika kita sudah mengalami ketiga hal yang telah disebutkan, kita menjadi cenderung berhenti untuk melakukan apapun yang kita senangi.

Hobi + Persisten? Bagaimana caranya?

Nah Maximizer. Setelah kalian sudah mengetahui apa itu arti dari persisten, bagaimana caranya agar kita bisa menghubungkan antara hobi dan persisten? Ketika Maximizer merasa bosan karena melakukan hobi yang serupa dan berulang-ulang, tandanya Maximizer butuh ilmu yang baru nih tentang hobinya. Contohnya kalian memiliki hobi memasak masakan Indonesia. Namun, karena kalian terlalu sering untuk memasak masakan Indonesia, kalian jadi bosan untuk masak. Kalian butuh sesuatu yang baru nih, jadi kalian mencoba untuk mencari resep masakan dari Jepang sehingga muncul kembali rasa tertarik kalian untuk memasak dan meracik bumbu-bumbu yang tentunya berbeda dari bumbu yang biasa digunakan di Indonesia. Walaupun kalian sempat gagal dalam meracik bumbu-bumbu tersebut, kalian tetap berusaha untuk memasak masakan Jepang sehingga bisa memiliki dua keahlian, yaitu bisa memasak masakan Indonesia dan memasak masakan Jepang.

Bagaimana biar bisa sukses?

Setelah sudah mengetahui bagaimana caranya agar hobi kalian dapat dilakukan secara persisten, langkah selanjutnya adalah kalian harus mengenalkan hasil karya kalian kepada orang lain. Nah, bagaimana caranya? Kalian bisa melakukannya dengan memperlihatkan langsung dengan orang lain. Bisa juga dengan menjual hasil karya kalian kepada orang lain. Bisa juga dengan merekam lalu sebarkan ke sosial media. Kalau orang lain sudah menyukai karya kalian, maka mereka akan menyebarkan hasil kerjamu terhadap orang lain. Dan apabila hasil kerjamu sudah diketahui oleh masyarakat luas, tidak menutup kemungkinan ada orang yang ahli dalam bidangmu akan memanggilmu untuk bekerjasama. Dengan adanya kerjasama tersebut, maka tidak menutup kemungkinan juga kalian dan karya kalian akan diketahui oleh orang banyak.

Kalian pasti pernah merasakan bosan ketika sedang melakukan hobinya. Chandra Liow pernah merasakan bosan saat melakukan pengambilan dan mengedit video tersebut hingga dia sempat tidak pernah upload video di Youtube. Namun tak lama kemudian, Chandra Liow kembali lagi ke Youtube dengan memiliki inovasi  menggunakan gaya sinematografi yang lebih menarik dan lebih menarik mata viewer untuk menonton videonya. Dan Chandra Liow juga pernah berkata dalam videonya, bahwa ketika dia memutuskan untuk membuat video lagi, namun dia ingin membuat video yang lebih menarik dan harus ada dasar teknik sinematografinya sehingga video yang dia hasilkan bisa menjadi video yang berkualitas.

 

Referensi:

Sanjaya, A. (2015, September). Pengertian Persistensi Definisi, Komponen Faktor yang Mempengaruhi. Diambil kembali dari Landasan Teori: http://www.landasanteori.com/2015/09/pengertian-persistensi-definisi.html

Seligman, M. E., Peterson, C., & Park, N. (2004). Strengh of Character and Well Being. Journal of Social and Clinical Psychology, 603-619.