Memiliki perbedaan karakteristik dari tiap generasi dalam dunia kerja adalah suatu fenomena yang dialami oleh seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Saat ini Indonesia tengah mengalami “Bonus Demografi”, di mana penduduk usia produktifnya tengah mendominasi pertumbuhan ekonomi negara. Dari sinilah, baby boomers sebagai partner kerja milenial perlu memahami pertumbuhan dan dinamika generasi milenial.

Merespon adanya kebutuhan hal ini, Direktorat riset dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia dalam kegiatan Pengabdian Masyarakat Kajian UI bekerjasama dengan IOC menyelenggarakan One Day Seminar (seminar sehari) dengan tema Bekerja bersama dengan Generasi Milenial (Working With Millennials Generation) di Gedung Sentraya, Melawai, Jakarta Selatan pada Sabtu, 16 September 2017, di mana hasil diskusi dari seminar ini serta hasil dari kajian sebelumnya akan dituangkan dalam bentuk buku.

Dalam kesempatan ini, Ivan Ahda selaku CEO Maxima Indonesia ikut berkontribusi sebagai salah satu pembicara, yang juga tengah aktif berinteraksi dengan para milenial di lapangan baik di lingkup forum kepemudaan maupun lingkungan pekerjaan, berbagi seputar karakteristik millennial pada acara ini.

Berbeda generasi, berbeda juga karakteristiknya. Angkatan kerja di Indonesia, saat ini terdiri dari beberapa generasi, di antaranya Baby Boomers (1946-1964), Generasi X (1965-1980), Generasi Y/Millennials (1980-2000), dan Generasi Z (di atas tahun 2000). Mereka dikelompokkan berdasarkan tahun kelahiran dan kejadian yang melatarbelakangi munculnya generasi tersebut.

Menurut beberapa penelitian, setiap generasi memiliki nilai-nilai serta karakteristik yang berbeda, baik di lingkungan kerja maupun di lingkungan sosialnya. Perbedaan yang ada pada masing-masing karakteristik tersebut inilah bila tidak disikapi dengan baik dapat menimbulkan konflik di organisasi mereka bekerja atau bergabung.

Ivan menuturkan, yang menjadi issue dalam dunia kerja saat ini ialah selain karena pola waktu mereka (milenial) bertahan di tempat kerja, yang kedua adalah bagaimana membangun relasi antara atasan dengan bawahan. Semua dibahas dan didiskusikan pada Working With Millenials Generation di Gedung Menara Sentraya, Melawai.

Acara ini turut dihadiri oleh beberapa Special Speakers, seperti Esa Sukmawijaya (selaku Asisten Deputi Peningkatan IPTEK dan IMTAK Pemuda Kemenpora), Dr. Wustari L Mangundjaya (selaku Dosen senior Fakultas Psikologi Universitas Indonesia), M. Kurnia Siregar (selaku pendiri dan President Director dari Loop Asia Consulting Group), Pambudi Sunarsihanto (selaku Vice President, Human Resources at Danone Aqua), dan beberapa special speakers lainnya yang berbagi insight seputar milenial.

Esa Sukmawijaya yang tengah memandang generasi milenial dari sudut pandang pemerintah saat ini, Ia mengatakan bahwa generasi milenial memiliki potensi, namun di sisi lain ada faktor yang dapat menghancurkan generasi mudanya.

“Kami berdasarkan konstitusi, berdasarkan undang-undang, sebagai pemerintah tentu mesti membuat atmosfer, membuat iklim bagaimana kondisinya supaya faktor-faktor yang akan menghancurkan generasi muda kita itu perlu diantisipasi, perlu di kawal. Faktor seperti yang kita ketahui sekarang, dengan teknologi yang demikian meluas, dengan sosial media yang juga demikian massive, begitu dan para generasi milenial juga sangat gandrung, berarti dari segi teknologi pun harus kita antisipasi.” jelas Esa Sukmawijaya saat diwawancarai tim Maxima, Sabtu 16 September 2017 di Gedung Sentraya.

Melihat gejala dan fenomena generasi milenial yang ada, maka dari itu diperlukan adanya pemahaman yang lebih baik mengenai Generasi Milenial. Baik pihak swasta maupun pemerintah harus bekerjasama untuk dapat membangun iklim kerja yang kondusif.