Semua orang tua pasti pernah marah dengan anaknya. Namun, bila kita dalam keadaan tenang, tentunya kita bisa mengatasi semua masalah pada anak-anak dengan lebih baik. Tetapi, jika kondisi kita sedang stress, seringkali merasa berhak untuk melampiaskan kemarahan pada anak.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya bukan perilaku anak kita yang menyebabkan kemarahan kita, tapi dari cara kita mengatasi masalah berasal dari apa yang sudha kiita pelajari dalam hidup kita (Inner Child). Ketika kita masih kanak-kanak, orang tua mungkin saja bersikap sama ketika kita melakukan sesuatu yang pada akhirnya membuat mereka marah.

Tapi pernahkah Anda berpikir bahwa perilaku tersebut dapat menimbulkan ‘luka’ psikologis anak kita?

 

 

Apa yang terjadi pada Anak saat kita berteriak atau memukul?

Tentu saja kita semua pasti pernah marah pada anak, bahkan seringkali marah besar. Permasalahannya adalah bagaimana menggunakan kedewasaan kita untuk mengendalikan ekspresi kemarahan kita dan memperkecil dampak negatifnya.

Kekerasan verbal yang terjadi saat kita berbicara keras atau membentak anak akan berdampak negatif pada kepribadian anak, terutama karena anak sangat bergantung pada orangtuanya dalam hal pembentukan konsep dirinya. Anak yang mengalami kekerasan fisik seperti dipukul, terbukti menunjukkan perilaku negatif di kemudian hari sebagai dampak dari kekerasan fisik yang pernah dialaminya dulu.

Bila anak Anda tidak terlihat takut pada kemarahan Anda, itu merupakan indikasi bahwa ia sudah terlalu sering melihatnya dan sudah membangun usaha pertahanan diri untuk melawannya dengan cara melawan Anda. Hasilnya adalah anak akan semakin tidak berminat untuk berperilaku positif yang bisa menyenangkan hati Anda, dan akan membuka dirinya ke luar sehingga lebih mudah terpengaruh oleh teman-temannya dan juga dunia luar.

Artinya, Anda memiliki tugas yang lebih berat untuk memperbaiki ‘kerusakan’ ini. Ditunjukkan atau tidak dan semakin sering kita marah padanya, ia akan semakin defensif dan semakin enggan menunjukkan perasaannya kemarahan kita merupakan hal yang menakutkan bagi anak kita.

 

Lalu Bagaimana Mengendalikan Emosi dengan Cerdas?

 

1.Berbagi perasaan yang timbul dari seseorang pada umumnya berpangkal dari pikiran. Ketika seseorang berpikiran negatif, maka perasaan orang tersebut akan cenderung negatif. Sebaliknya, ketika orang berpikiran positif, maka  perasaan orang tersebut cenderung positif. Jadi, mengendalikan pikiran merupakan langkah awal dalam mengendalikan perasaan.

 

2. Biasakan memberi kesempatan kepada pikiran untuk mengambil keputusan.

Semakin seseorang mahir menyerahkan keputusan pada pikiran, maka semakin sehat emosinya. Di mana akal yang mengendalikan perasaan, bukan perasaan yang mengendalikan akal.

 

3. Ketika suasana hati tidak nyaman, cobalah berdoa, menemui sahabat untuk berbagi (curhat), beristirahat, mendengarkan musik, atau melakukan hal yang Anda sukai.

 

4. Pertanyakan  dengan kritis perasaan-perasaan negatif yang dirasakan. Misalnya, apakah masalahnya begitu gawat sehingga seseorang harus marah besar?

 

5. Pertanyakan dengan tegas tentang keyakinan-keyakinan yang salah. Misalnya, siapa bilang masalah yang kita hadapi tidak ada jalan keluarnya?

 

6. Kendalikan reaksi Anda terhadap situasi yang tidak menyenangkan. Misalnya, ketika ada yang menyalip motor dengan tiba-tiba, Anda bisa memilih untuk marah atau memilih tetap tenang. Jika memilih marah, artinya Anda jadi orang reaktif dan emosional. Namun sebaliknya, jika memilih tenang, sikap tersebut mengajarkan Anda menguasai diri dengan baik.

 

Sering Kesal Tanpa Alasan

Mengacu pada paragraf awal, kesal adalah bentuk dari manifestasi pengalaman yang dialami oleh hidup manusia sehingga secara logika dan asumsi, seharusnya semua kekesalan memiliki alasan di baliknya. Namun, pernahkah kita melihat seseorang yang sering memunculkan kekesalan tanpa sebab? Ada individu yang kesal melihat hal-hal yang menurut kita biasa saja. Selain karena tingkat toleransi orang terhadap suatu kejadian yang beda-beda, bisa jadi karena faktor lain. Nah, bisa jadi seseorang yang kesal tanpa alasan sebetulnya memiliki alasan namun orang tersebut tidak menyadari. Salah satu hal yang mempengaruhi alasan tersebut adalah inner child kita.

 

Jika sering mengalami depresi, sebenarnya hal ini dapat diatasi sedini mungkin dengan mengenal lebih jauh inner child (ego personality) diri sendiri.

Nah, Max mengajak kalian untuk mengikuti public training:
“Love Your Inner Child”
bersama Coach Asep.

Sabtu-Minggu,
19-20 Agustus 2017
08.30-17.00 WIB
Di Hotel Sofyan, Tebet.

Daftar Pustaka

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Diakses dari http://kbbi.web.id/bimbang

King, L. (2013). Memory. Science of Psychology: An Appreciative View (3rd ed.). Boston: McGraw- Hill Higher Education

 

The following two tabs change content below.

Ayunita Xiao Wei

#Maximizers - Media Monkey at maxima.id
Share This